0
"Nek Asni melaporkan penyidik ke polda Sunuy"

Medan | Potret RI - Peristiwa menimpa seorang wanita yang berstatus janda tidak menjadi prioritas para penyidik saat ini, sehingga Nasib Nek Asni (72) warga Jalan Letda Sujono,Kelurahan Tembung, Kecamatan Medan Tembung,belum mendapatkan kepastian di Polrestabes Medan. Janda yang tinggal seorang diri ini, mengaku nyaris sirna rasa kepercayaannya terhadap penyidik Polrestabes Medan yang menangani kasusnya sampai 2 tahun ini.

Pasalnya, sudah 2 tahun perkara laporan hilangnya uang sekitar Rp 86 juta yang hilang di dalam buku rekeningnya, tak kunjung selesai. Padahal, laporan polisi telah dibuatnya ke Polresta Medan (Polrestabes Medan dengan Nomor: LP / 1087 / K / IV / 2016 / SPKT RESTA MEDAN, tanggal 26 April 2016.

Karena tak kunjung dapat penyelesaian dan diduga adanya pemamian yang dilakukan penyidik, korban resmi melaporkan oknum penyidik tersebut ke  Bid Propam Polda Sumut dengan surat laporan nomor: STPL/25/IV/2018/Propam, Kamis (5/4) kemarin. Laporan tersebut diterima oleh BA SUBBAG YANDUAN dan ditandatangani Brigadir Bersin Sigalingging.

Kepada wartawan saat ditemui di Polrestabes Medan, Sabtu sore (7/4) sore, Asni menyebutkan, oknum penyidik Polrestabes Medan yang dilaporkannya berinisial, Bripka KCP, yang berstatus penyidik pembantu di Sat Reskrim Polrestabes Medan.

Asni juga mengeluh, bahwa selama kurun 2 tahun laporannya di Polrestabes jalan ditempat. Bahkan diusianya yang sudah terbilang udzur itu, dirinya mengaku telah letih harus bolak-balik kesana kemari memenuhi panggilan penyidik di Polrestabes. Namun, kasusnya tak kunjung kelar. Bahkan dugaan adanya dugaan permainan antara pihak pihak polisi yang menangani kasusnya terhadap bank Sumut, seakan dirasakannya dengan sering tidak memenuhi panggilan.

"Siapa yang gak sakit hati, udah 2 tahun gak ada hasilnya. Saya curiga, masak pihak bank Sumut kalau dipanggil konfrotir, sering gak datang. Pernah datang, si Andriyany perwakilan Bank Sumut, tapi dia gak ada ngomong apapun kepada saya. Dan terlihat pihak bank Sumut yang diutamakan," kesal, Asni.

Diungkapkannya lagi, bahwa dugaan kuat korban terhadap pegawai Bank Sumut yang dulunya sebagai kasir Bank Sumut di Samsat Jalan Putri Hijau Medan. Sekarang, Andriyany masih bekerja sebagai pegawai Bank Sumut di kantor pusat Jalan Imam Bonjol Medan.

"Dulu saya nabung melalui si Andriyany di Samsat Putri Hijau. Saya nyetorkan uang Rp 120 juta sama dia. Dialah yang memberikan buku tabungan bank Sumut dan ATM-nya. Dia juga yang tau nomor PIN ATM saya. Sewaktu diperiksa saya tunjuk dia dan saya langsung tuduh dialah yang mencuri uangku, tapi dia gak berani berkata," ungkap, nek Asni.

Untuk itu, mantan istri TNI ini pun berharap agar ada belas kasih dan mau membantunya sehingga mendapatkan kejelasan uangnya kembali.

"Saya juga sudah laporkan kasus saya ini ke Poldasu bahkan sampai ke DPRD komisi C, tapi sepertinya gak ada yang mampu menumpas kasus saya di bank Sumut. Cukup hebat sekali oknum bank Sumut yang ngambil uang saya sehingga gak tersentuh oleh hukum. Kalau memang gak ada yang bersalah, kenapa laporan saya diterima," cerca, ibu Asni sembari menitiskan air mata.

Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Putu Yudha Prawira, hingga berulangkali ditanyai terkait perkembangan perkara pemeriksaan dan penyelidikan maupun hasil konfrontir antara korban (Asni) maupun pihak Bank Sumut (Andriyany) belum juga bisa dipastikan. "Masih proses pemeriksaan saksi-saksi," kata, Putu, singkat.

Diketahui, korban Asni (72) mengaku kehilangan uang uang tabungannya diketahui pada sekitar 2 tahun silam. Dimana pada saat itu, korban mendatangi Bank Sumut di Jalan Imam Bonjol Medan, guna menarik seluruh uang tabungannya untuk biaya tiket perjalanan umroh ke Makkah.

Akan tetapi, saat menunjukan buku rekening bank, KTP serta berkas atas dirinya kepada pihak kasir, uang tabungannya yang hampir 86 juta, telah raib.


"Saya sempat syok saat itu sambil menangis. Saya jumpai Direksi bank Sumutnya, tapi orang direksinya itu malah mengatakan ke saya kalau tak ada urusan mereka pihak bank SUMUT atas hilangnya uang saya di rekening. Padahal, beberapa hari lalu uang saya masih utuh 85.147,189 rupiah," kenangnya.

Padahal, sambungnya, uang tersebut merupakan hasil penjualan tanah dikawasan Tembung dengan total pembayaran Rp 150 juta. Uang itu pun digabungkannya ke Bank Sumut dengan jumlah Rp 120 juta yang disetorkan kepada Andriyany yang merupakan kasir bank Sumut yang bertugas di Samsat Jalan Putri Hijau Medan. "Kasir di Samsat Putri Hijau, pegawai bank Sumut semua, sampai sekarang," katanya. (Red.Su/Tim)

Posting Komentar

 
Top