0
"Div Humas Mabes Polri Turun Ke Lapangan Bersama dengan Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementrian Perdagangan"

Medan | Potret RI - Terkait bawang Bombay tidak sesuai ketentuan telah beredar di pasar, menurut Roman, satgas pangan tidak mengetahui ada barang yang masuk melalui Pelabuhan Belawan. Ditemukannya Bawang Bombay Merah mini kurang Ilegal dengan jarak kurang lebih dari 200 meter dari Polsek Percut Sei Tuan.  

Sebanyak 670 ton bawang bombay merah ilegal asal India disita dari dua gudang di kota Medan. Temuan ini merupakan hasil pengembangan dari kegiatan pengawasan Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan dan Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri.

Bawang Bombay Merah Mini yang disimpan di Gudang Cold Storage Jl. Letda Sujono, Gudang yang baru berdiri selama 7 bulan dan baru beroperasi cold storage menerima bawang bombay mini dari pengusaha yang bermain main terhadap perekonomian dan berimbas pada petani bawang merah di Indonesia.

"Makanya kita koordinasi, barang ini masuk atau keluar. Kalau cepat informasi dapat, kita segera respon. Jadi, tidak ada ketidak tahuan dari kita saat barang masuk,"terang Brigjen.Pol. Slamet Pribadi, SH.MH

"masuknya bawang merah imitasi ini bisa merusak pasaran harga bawang merah di pasar. Karena para petani tidak akan mampu bersaing dengan bawang merah imitasi impor tadi", ungkapnya kembali. 

Petani bawang merah Brebes, mengeluhkan masuknya bawang bombay kerdil asal India yang dijual oplosan dengan bawang merah lokal di pasaran tradisional. Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) bahkan menuduh bawang tersebut masuk secara ilegal. Ini tanggapan Kementan.

Sebelumnya Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), mengungkap temuan bawang asal India masuk ke Indonesia. Bawang yang ditemukan di pasaran itu dinilai tidak sesuai dengan ukuran yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian No 105/kpts/SR.130/D/12/2017 dan UU No 19 Tahun 2010, sehingga dicurigai masuk secara ilegal.

Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Juwari, mengatakan bawang bombay itu berkualitas jelek dan tak layak impor karena hanya berukuran 2 cm, karena sesuai aturan yang boleh diimpor minimal ukuran 5 cm. Selanjutnya bawang itu dijual dengan cara dicampur bawang lokal Brebes sehingga jadi samar.

Menanggapi temuan ABMI tersebut dan PKTN Kemendag, Div.Humas Mabes Polri Brigjen.Pol Selamet Pribadi menegaskan bahwa pihaknya mendukung satgas pangan di daerah untuk melakukan penyelidikan dan penindakan secara hukum, bila ditemukan indikasi ilegal baik pemasukan maupun penyalahgunaan izin/rekomendasi impor.

Dalam keterangan yang dikirim, Badan Karantina Pertanian menegaskan bahwa bahwa pengawasan pemasukan bawang bombay oleh petugas karantina pertanian di tempat pemasukan adalah terhadap aspek kesehatan dan keamanan pangan yang telah dilakukan secara konsisten.

Pengawasan itu juga telah sesuai dengan prosedur peraturan perundangan yang berlaku, sebagaimana UU No 16 tahun 1992 untuk melakukan pencegahan masuk dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK).

Petugas dari PKTN Kemendag RI juga melakukan pengawasan terhadap pemasukan bawang bombay merah mini yang hampir mirip dengan bawang merah lokal,  sesuai dokumen persyaratan dan keamanan pangan yang diterbitkan oleh otoritas berwenang di negara asal sesuai dengan Permentan No 43 tahun 2012 tentang Tindakan Karantina Tumbuhan untuk Pemasukan Sayuran Umbi Lapis Segar ke Wilayah RI.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 55 tahun 2016 tentang Pengawasan Pangan Segar Asal Tumbuhan, umbi lapis tidak boleh masuk ke wilayah Indonesia bila tidak memiliki Certificate of Analysis (COA) dan tidak dilakukan prior notice sebelum masuk teritorial Indonesia.

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyita 25 kontainer bawang merah 'palsu' di Medan. Dari puluhan kontainer tersebut, polisi menyita 670 ton bawang merah 'palsu' itu dari importir asal India.

Demikian disampaikan Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim, Komisaris Besar Daniel TM Silitonga di lokasi penyitaan gudang Jalan Letda Sujono 168 Medan, Senin (25/6). "Totalnya ada 670 ton yang akan disebar ke berbagai wilayah di Indonesia seperti Jawa, sekitar Sumatera, bahkan sampai Kalimantan," katanya . 

Terkait dengan kerugian Negara, "Kalau misalnya bawang bombai diimpor dengan harga Rp 2.000/kg, harusnya dijual paling di kisaran harga Rp 6.000/kg. Ini kan mereka mem-branding-nya sebagai bawang merah, pasti mereka jualnya di kisaran harga Rp 10.000-Rp 20.000/kg," pungkas Kombespol Daniel TM Silitonga.

Soal penyitaan, dia mengemukakan, awalnya PKTN Dit Pengawasan barang beredar dan jasa Kemendag RI berkordinasi dengan Penyidik Polri pada Juni 2018 mendapatkan informasi bahwa ada 25 kontainer yang membawa bawang merah mini dari India sudah melalui pemeriksaan di Balai Besar Karantina Pertanian Belawan.

Bawang bombay merah mini tersebut dinyatakan boleh masuk ke wilayah Indonesia dengan tersedianya dokumen lengkap, barang tersebut disimpan di Gudang Cold Storage Jl. Letda Sujono yang selanjutnya akan dikirim ke Gudang Hamparan Perak Medan dan di sebar ke pasar. 

"Masuknya bawang bombay mini dengan diameter kurang dari 5 cm adalah ilegal karena tidak sesuai Kepmentan Nomor 105 Tahun 2017 tentang karakteristik bawang bombai yang dapat di impor yaitu bawang dengan umbi minimal 5 cm dan diduga melanggar ketentuan dalam Permendag Nomor 16 Tahun 2018 tentang perubahan ketiga atas Permendag No. 30/M-DAG/PER/5/2017 tentang Ketentuan impor produk hortikultura," terang Deirektur Tertib Niaga Perlindungan Konsumen Kemendag  Veri Anggrijono 

Dia menjelaskan, pemerintah telah membatasi masuknya bawang merah impor karena petani bawang di Indonesia masih bisa memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam negeri. Meski di beberapa musim kerap terjadi hambatan panen berupa cuaca dan cara taman yang masih tradisional, namun bawang merah di dalam negeri masih dikatakan cukup.

Maka dari itu, Indonesia hanya mengeluarkan izin untuk bawang bombai saja, karena Indonesia tidak memiliki produksi bawang bombai."Jika bawang merah ini lolos ke pasaran, maka petani bawang merah lokal akan menjadi resah. Hal itu akan mempengaruhi harga jual bawang merah lokal yang harganya akan anjlok," paparnya.

Dia menjelaskan, importir yaitu  CV. SMM mendapat izin impor 5.000 ton, kemudian UD. AL mendapat izin impor 5.000 ton dan CV. LH mendapat izin impor 5.000 ton, dengan sengaja melakukan impor menggunakan dokumen impor bawang merah bombai, yang kenyataannya yang diimpor bawang merah mini, hal ini untuk mengelabuhi dan menyesatkan masyarakat dikarenakan hampir mirip dan seolah-olah bawang merah lokal. 

"Dengan masuknya bawang merah mini ilegal dan diperdagangkan ke konsumen, maka para petani bawang merah lokal mengalami kerugian, karena harga bawang merah mini ditingkat pengecer Rp 14.000/kg, sedangkan bawang merah lokal Rp 25.000/kg. Adapun pelaku usaha banyak yang melakukan pencampuran bawang merah mini impor dengan bawang merah lokal," jelasnya. 

Dia mengatakan, saat ini pihaknya melakukan proses penyidikan lebih lanjut dan dilakukan pemberkasan berkas perkara untuk dikirimkan ke Kejaksaan Agung RI. 

Dia menegaskan, bawang merah 'palsu' ini sebenarnya merupakan bawang bombai merah yang ukurannya di bawah standar."Kan Bea Cukai dan karantina lolos nih, kalau di Medan lolos, bawang merah 'palsu' ini akan dikirim ke Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak," paparnya. 

Alasan mengapa importir India berani mengirimkan bawang bombai merah mini untuk dijual sebagai bawang merah di Indonesia yaitu karena adanya perbedaan tarif bea masuk bawang merah yang ditetapkan sebesar 20%. Sedangkan bawang bombai hanya 5%.

Selain itu harga bawang bombai merah di India pun lebih murah yaitu hanya Rp 2.500/kilogram, sementara di Indonesia 25.000/kilogram.

Dari perbedaan harga 10 kali lipat tersebut, pihak Kepolisian mendapat informasi dari Asosiasi Bawang Merah Indonesia bahwa petani bawang lokal mengalami kerugian, yang dari keterangan Kementerian Pertanian sebesar Rp 5,8 triliun.

"Bawang bombay merah impor ini diamankan karena diduga terjadi pelanggaran ketentuan impor," kata Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kemendag, Veri Anggrijono di gudang Berengga Rowa Indonesia, Jl Letda Sudjono, Medan, Senin (25/6).

Veri menyebutkan, impor bawang bombay tersebut diduga telah melanggar Keputusan Menteri Pertanian Nomor 105 Tahun 2017 tentang Karakteristik Bawang Bombay yang Diimpor. Berdasarkan aturan itu, bawang bombay yang diimpor, yakni dengan ukuran umbi minimal 5 cm.

Selain itu, importir diduga telah melanggar Permendag Nomor 16 Tahun 2018 tentang Perubahan ketiga atas Permendag Nomor 30/MDAG/PER/5/2017 tentang Ketentuan Impor Produk Holtikultura.

"Kami lakukan pengamanan agar bawang tersebut tidak mendistorsi pasar bawang merah lokal yang ada," ujar Veri.

Menurut Veri, jika dugaan tersebut dapat dibuktikan setelah pemeriksaan, maka pelaku usaha akan dikenakan sanksi administratif. Sanksi tersebut berupa penarikan barang dari peredaran dan pemusnahan. Tak hanya itu, importir juga akan dikenakan pencabutan Persetujuan Impor (PI) dan Angka Pengenal Impor (API).

"Ini merupakan implementasi dari nota kesepahaman antara Kemendag dan Polri dalam meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum di bidang perdagangan," kata Veri.

Veri menegaskan, pihaknya akan bertindak tegas terhadap pelaku usaha yang tidak taat atau menyalahgunakan aturan. Mereka pun terus meningkatkan koordinasi dan kerja sama antarlembaga terkait pengawasan di lapangan.

"Hal ini sebagai bentuk usaha perlindungan konsumen dan peningkatan tertib niaga," ujar dia. Bawang Bombay impor asal India di bawah ukuran 5 cm yang tidak sesuai dengan ketentuan beredar di Pasar Tradisional di Kota Medan. Tetapi. (Red.Su/Tim)

Post a comment

 
Top