1
"Kapten Inf. Ruslan Buton bersama dengan 11 Anggota TNI divonis Mahkamah Militer Ambon bersalah, dan dijatuhkan Hukuman, atas putusan Hakim Warga Lede merasakan ketidak adilan terhadap Putusan tersebut".

Ambon | Potret RI - Peristiwa ini terjadi pada 24 oktober 2017, dan setelah putusan Hakim  yang dirasakan Warga Lede atas Putusan Hakim Mahkamah Militer Ambon terhadap Kapten.Inf. Ruslan Buton dirasakan tidaklah adil dan terkesan ada interfensi dan faktor kepentingan, dari informasi yang dihimpun dilapangan dari warga Lede, Ruslan yang sudah menyelamatkan warga lede dari tindakan sadis La Gode yang telah meresahkan masyarakat, malah kebalikan, salah satu Patriot Bangsa yang harus diperjuangkan di pertahankan malah mendapatkan putusan yang tidak sewajarnya sesuai dengan apa yang diterima di lapangan.

Peristiwa La Gode merupakan catatan bahwa keamanan yang dirasa di Ambon, Maluku belum sepenuhnya bisa diatasi oleh Pihak keamanan yang disebut sebagai pengayom untuk memberikan rasa aman bagi warga, sehingga merasa perlu adanya kekuatan yang bisa membuat efek jera bagi pelaku kejahatan yang berazaskan kepentingan warga dan keamanan masyarakat khususnya bagi Negara itu sendiri.

La Gode ini sebelumnya pernah bermasalah dengan hukum, namun hukum tidak dapat menghentikan perbuatannya, dilihat dari peristiwa yang dialami warga, pernah mendapatkan hukuman namun setelah keluar melakukan kegiatan yang lebih sadis kembali, alhasil diperlukannya pengamanan dan tindakan yang tepat dan keputusan yang dilakukan dari seorang yang 

Putusan atas vonis 11 Anggota TNI yang menganiaya petani asal Ambon, Maluku, La Gode, hingga tewas digelar di Pengadilan Militer Ambon, pada Rabu (6/6) kemarin. 11 Hakim Ketua Kolonel Pnb IP Simanjuntak menyatakan 11 Anggota TNI itu dinyatakan bersalah.

Oditur Militer Ambon membagi perkara 11 oknum TNI tersebut menjadi 4 berkas perkara. Berkas pertama atas nama Komandan Kompi Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau Ruslan Button; berkas kedua atas nama anggota pos satgas Gamal Albram, Daud Samarkilang, Munawir Ismail dan La Ndeke selaku; berkas ketiga atas nama anggota pos Adi Putra Panirian; serta berkas keempat atas nama anggota pos satgas La Fiki, Johan Nikodemus Sambonu, Jasirman, Ekoata Manukrante dan Arifin Rumaf.

"Masing-masing anggota TNI itu dijatuhi hukuman yang berbeda-beda. Prada Adi putra divonis 5 bulan penjara dengan pemotongan masa tahanan (terdakwa dan oditur menerima putusan). Praka La Fiki dan 4 orang lainnya dijatuhi hukuman penjara 9 bulan 15 hari dengan pemotongan masa tahanan (terdakwa menerima dan Oditur pikir-pikir)," seperti yang dikutip dari rilis Pendam Pattimura, Jumat (8/6). 

Oditur Militer Ambon mendakwa kesebelas orang tersebut melanggar Pasal 338 jo Pasal 55 ayat (1) KUHP primer Pasal 170 ayat (1) tentang menggunakan tenaga secara bersama-sama untuk melakukan kekerasan terhadap seseorang dan, (3) jo Pasal 156 atau Pasal 170 ayat (1) dan (2) jo Pasal 56 KUHP.

Sementara itu Masyarakat Kecamatan Lede merasa kecewa dan menyayangkan keputusan Mahkamah Militer Ambon yang terkesan tergesa-gesa dalam menjatuhkan hukuman kepada Kapten Inf Ruslan Buton dengan vonis 1 tahun 10 bulan dan hukuman tambahan pemecatan, hal tersebut dirasakan sangat tidak adil bagi masyarakat Lede.

Masyarakat meminta Majelis Hakim dalam menjatuhkan hukuman tidak semata-mata karena tekanan dari pihak tertentu, akan tetapi juga harus berimbang dan memenuhi rasa keadilan masyarakat. Sudah sepantasnya La Gode bernasib seperti itu, sebab semasa hidup perbuatannya hanya meresahkan masyarakat Taliabu, La Gode dikenal sebagai pencuri.

"pekerjaan La Gode itu hanya sebagai pencuri karena malas bekerja dan La Gode memiliki komplotan pencuri, jadi permintaan kami agar hukuman Danki Kapten Ruslan Buton di Pertimbangkan lagi oleh Majelis Hakim", ujar salah satu warga yang rumahnya tidak jauh dari La Gode kepada awak media.

Secara terpisah Masyarakat Kecamatan Lede dari informasi yang dihimpun akan melakukan Aksi solidaritas terhadap putusan Majelis Hakim guna meminta kepada Majelis Hakim yang telah menjatuhkan hukuman agar dapat mempertimbangkan lagi putusannya "kami merasa bahwa putusan tersebut sangat tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat, karena setelah meninggalnya La Gode di Kabupaten Taliabu dan khususnya Kecamatan Lede kami masyarakat merasakan sangat tenang dan damai serta aman dari kasus pencurian, ini merupakan salah satu bukti nyata, dan sikap kami agar Ruslan Buton tidak dipecat dari pekerjaannya, karena Ruslan Buton adalah Pelopor TNI yang dicintai rakyat karena ikhlas membantu dan memberi sumbangsih kepada masyarakat yang tidak mampu", paparnya.

Menurut warga Lede, sepantasnya La Gode itu meninggal dunia, sebab La Gode ini bukan hanya mencuri Gepe (Singkong Parut), namun aksi pencurian yang dilakukan oleh La Gode ini sudah sangat meresahkan warga, karena dalam setiap aksi pencuriannya ia selalu membawa senjata tajam berupa parang/pisau dan berpakaian ala ninja serta tak segan-segan melukai siapapun korbannya, sehingga warga selalu merasa was-was dan khawatir akan menjadi korban berikutnya, dan kasus La Gode ini bukan baru pertama kali ini saja, akan tetapi sudah berulang kali dan bahkan pernah, warga karena kesal, masyarakat merobohkan rumah La Gode yang berada di Desa Balohang Kecamatan Lede, dan ternyata didalam rumahnya diketemukan banyak sekali bukti-bukti barang milik warga yang pernah dicuri oleh almarhum (La Gode), "sudah seharusnya La Gode itu mati karena sangat meresahkan kami selaku warga, sudah berulang kali La Gode dilaporkan ke pihak Kepolisian Taliabu dan setelah ditangkap tapi selang beberapa hari kemudian dia (La Gode) sudah keluar dan melakukan aksinya kembali, sehingga kami masyarakat merasa lebih khawatir karena saat menjalankan aksi pencuriannya bila dipergoki warga maka warga tersebut sudah pasti akan dilukai bahkan dibunuh oleh La Gode, dan kejadian tersebut seluruh masyarakat Kecamatan Lede sangat mengetahui jelas dan ini sudah menjadi karma bagi dia“, ungkap warga yang tidak ingin disebutkan namanya.

Diketahui, Semasa hidup La Gode merupakan seorang pencuri dan dari hasil mencuri itu istrinya sering menjual hasil curian suaminya di wilayah Bobong. Kemudian pada tahun 2011 silam, La Gode pernah membunuh warga Desa Tikong karena pada saat itu mencuri cengkeh yang ketika dikejar oleh korbannya La Gode malah menikam hingga korbannya tewas. 

Anehnya La Gode lolos dari hukum karena yang dituduh membunuh justru salah satu warga Tikong yang bentuk fisiknya mirip seperti almarhum La Gode sehingga La Sudiati yang harus diproses secara hukum dan menjalani hukuman penjara selama 6 tahun. Terungkapnya kasus ini saat La Gode masuk penjara kasus pencurian. 

La Sudiati mendengar informasi bahwa ada tahanan baru atas nama La Gode masuk. Saat itu juga La Sudiati mendatangi La Gode dan menanyakan masih ingat kasus pembunuhan di Tikong La Gode jawab iya itu saya pelakunya. 

La Sudiati menyalaminya dan menyampaikan kepada La Gode bahwa saya yang jadi korban sekarang atas ulahmu saya yang dituduh dan La Gode minta maaf kepada La Sudiati. Sehingga saat 2 hari pasca meninggalnya La Gode, La Sudiati ditemani ibu kandungnya datang ke Pos Satgas dan menyampaikan terimakasih atas meninggalnya La Gode dengan ungkapan keadilan sudah La Gode dapatkan.(Red.Su/Tim)

Post a comment

  1. jika penegakan hukum gaya Kapt. Ruslan Buton dibenarkan, maka tidak perlu lagi ada sila ke 2 , KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB. TIDAK PERLU ADA PENGADILAN NEGRI , CUKUP PENGADILAN RAKYAT.

    ReplyDelete

 
Top