0
"Arogansi dan Kesombongan atas jabatan melupakan tugas dan fungsi, akan menjerumuskan diri walaupun usaha sebelumnya dengan Pencitraan alhasil sirna dengan terbukanya kelakuan dari jabatan dan Pendidikan yang diraih"

Medan | Potret RI - Terkait penganiayaan yang dilakukan Kapolsek Delitua terhadap bawahannya (anggota-red), Kapolrestabes Medan membenarkan hal tersebut.

“Ya, kita sudah mengetahui peristiwa itu dari berbagai media, namun belum dapat memberikan keterangan lebih jauh lagi,” katanya melalui Humas Polrestabes Medan, Kompol Dailami menjawab wartawan di Medan, Sabtu (07/07/2018).

Meski demikian, ia menyarankan agar untuk lebih jelas apa penyebab kejadian, langsung saja melakukan konfirmasi kepada Kapolsek bersangkutan.

Lebih lanjut ia mengatakan, selaku pimpinan dari seluruh jajaran Polsek, pihaknya belum bisa memberikan keterangan maupun klarifikasi atas kejadian itu.

“Makanya secara mendetail sehingga kejadian itu ramai beredar di media sosial masyarakat, kita pun mengetahuinya dari itu juga. Oleh karenanya belum mendapatkan secara gamblang bagaimana sesungguhnya,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, Kapolsek Delitua, Kompol Bernad Leonardo Malau, diduga melakukan aksi arogan dengan menganiaya petugas jaga di Polrestabes Medan bernama, Bripda Alone.

Ironisnya, baru saja Polri merayakan Dirgahayu Polri ke -72 yang jatuh pada 1 Juli. Namun, aksi penganiayaan terhadap bawahan di tubuh Polri kembali terjadi pada Jum’at (06/07/2018) sekira pukul 9.15 WIB.

Kejadian berawal saat Kapolsek Delitua, Kompol Bernad Leonard Malau hendak masuk ke dalam gerbang Polrestabes Medan dengan mengendarai mobil pribadinya, Avanza silver plat BB 813 FP.

Seketika, seorang anggota Sat Sabhara yang bernama Bripda Alone yang ditugaskan tengah melakukan penjagaan di pos penjagaan Mapolrestabes Medan dan mendapat perintah langsung dari Pimpinan sesuai dengan SOP untuk memberikan arahan agar setiap mobil yang masuk harap membuka pintu kaca mobilnya, sayangnya himbauan itu tak berlaku kepada Kompol Bernad Malau.

Dari pandangan petugas jaga, dibalik pintu kaca mobil tersebut, tampak pria dengan mengenakan pakaian biasa yang sedang mengemudikan mobil tersebut.

“Yang bersangkutan tidak membuka kaca mobilnya. Sesuai peraturan, siapapun yang masuk wajib membuka kaca mobilnya. Lagian saya sudah katakan, kalau di jalan Polrestabes sedang dilakukan apel,” terang Bripda Alone, kepada tim media.

Di saat bersamaan, perwira yang merupakan mantan Kapolsek Medan Timur itu lantas memaksa. Seakan tak terima diberitahu, Kompol Benhard lalu mengacungkan jari tengahnya.

“Lalu dia turun dari mobilnya sambil memegang baju dinasnya. Disitu saya baru tahu kalau dia itu komandan saya (Kapolsek). Dia langsung menarik saya sampai ke gedung Reskrim,” katanya.

Di halaman gedung Reskrim ramai pengunjung serta petugas lainnya. Kompol Bernhard mengepalkan lengan kanannya lalu memukul bahagian dada Bripda Alone dengan keras.

“Sambil megang baju, setibanya di depan gedung Reskrim dia langsung pakai baju dinas disitu dia bertanya ‘mana apelnya?’ lalu ditumbuknya dada saya sambil mengatakan’ Mau kau ku kutunjang?’ saya hanya bisa siap salah bang sambil kesakitan,” tutur, Bripda Alone.

Tak sampai disitu, Kompol Benhard Malau kembali menghardik Bripda Alone untuk melihat-lihat lebih dahulu siapa orangnya yang harus ditegur dan diberitahu. Lalu petugas jaga itu kembali diperlakukan kasar oleh sang atasan dengan memberikan tindakan kekerasan berupa (pukulan.Red) dan cekikan.

Sementara itu, Kompol Bernhard Leonardo Malau, saat dikonfirmasi membenarkan kejadian yang dilakukannya dengan tidak ada rasa bersalah akan sikapnya selaku pimpinan disalah satu Polsek dibawah naungan Polrestabes Medan tersebut. 

Namun ia membantah atas tudingan telah melakukan pemukulan terhadap korban (Bripda Alone), hanya sedikit menyentuh mulutnya.

Terkait kejadian itu, perwira satu melati ini juga tak terima dituding sebagai sosok perwira polisi yang arogan yang disebutkan oleh Bripda Alone. Ia mengaku datang mengenakan baju kaos dengan celana dinas polisi.

“Saya tidak arogan. Saya tidak buka kaca karena kaca mobil saya rusak, tapi saya buka pintu. Saya buru-buru karena mau mengejar Vidcom. Jadi saya hanya menegur yang bersangkutan karena yang bersangkutan mengatakan lagi apel dan ternyata memang benar lagi apel. Bukan baju preman, saya pakai kaos olah raga dan celana dinas” akunya.

Dirinya juga mengatakan bahwa siap menerima resiko bila yang bersangkutan merasa keberatan. Bahkan diakuinya, persoalan hampir serupa yang dianggap lebih besar pernah dialaminya.

“Kalau memang yang bersangkutan tak terima silahkan saja, saya siap kok. Lagian masalah yang begituan lebih lagi pernah saya alami. Dan saya fikir, yang bersangkutan sangat cengeng. Tapi nanti saya akan kesana jumpai yang bersangkutan,” sebut B. Malau.

Sementara itu Directur Executive Polri Watch H. Abdul Salam Karim dikonfirmasi tim media menyangkut pembelaan dan pemberitaan yang dilakukan pimpinan Polsek Deli Tua terhadap anggota dari satuan Sabhara, menyampaikan ,"sah sah saja dia (Kapolsek.Red) untuk membuat pembelaan akan perlakuannya pada bawahan yang lagi bertugas mengamankan atas perintah atasannya,"

"Pada dasarnya, dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa bertindak berdasarkan norma hukum dan mengindahkan norma agama, kesopanan, kesusilaan, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Hal ini sebagaimana diatur dalamPasal 19 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia," terangnya kembali.

Bila dilihat dari amanat Undang Undang terhadap Kepolisian dan tindak tanduk dan sikap, arogansi yang ditunjukkan bukan menjadi panutan dan bukan menunjukkan bahwa dirinya adalah bagian dari institusi yang menjadikan dirinya sebagai pelayan masyarakat.

"Kita berharap kepolisian dapat dan senantiasa menjalankan tugas yang diamanatkan oleh undang-undang kepada mereka, dengab menghormati dan melindungi martabat manusia dalam melaksanakan tugasnya, tidak boleh menggunakan kekerasan, kecuali dibutuhkan untuk mencegah kejahatan membantu melakukan penangkapan terhadap pelanggar hukum atau tersangka sesuai dengan peraturan penggunaan kekerasan, bila semua itu dilakukan sudah layak kita pertanyakan kembali perkap dan undang undang kepolisian itu, dan personil yang melalukan tindakan diluar aturan harus ditindak keras, hal ini mencoreng citra Kepolisian Republik Indonesia," Tegas Direktur Executive Polri Watch H. Abdul Salam Karim, SH

H. Abdul Salam juga meminta kepada Kapolda dan Jajarannya yang menangani sikap dan tindak tanduk anggotanya yang sangar berlebihan, Arogan untuk dilakukan tindakan keras, hal ini dianggap sudah terlalu melenceng dari stigma kepolisian itu sendiri sebagai pengayom dan pelayan masyarakat, sedangkan masih memimpin sudah arogan kepada anggotanya sendiri bagaimana terhadap masyarakat, dan ini bisa menjadi bulan bulanan atas jabatan dan kedudukannya sendiri

"Jika polisi ataupun seorang pimpinan di kepolisian melakukan kekerasan padahal seharusnya bisa diselesaikan dengan cara lain, orang yang mendapat perlakuan tersebut dapat melaporkan polisi itu. Mengenai pelaporan atas tindakan polisi", tutur nya kembali. (Red.Su/Tim)

Post a comment

 
Top