0
"Persekusi terhadap warga oleh 3 orang anggota Dewan"

Jambi | Potret RI – Sebuah kedudukan dari anggota Partai menunjukkan kekuasaan dan penyalahgunaan kekuasaan sebagai premanisme yang turut melakukan aksi persekusi terhadap warga, ketakutan akan tag #2019gantipresiden menjadikan pihak pendukung petahana menjadi lebih liar dan terbiarkan.

Aksi tiga anggota DPRD persekusi warga yang mengenakan kaos #2019GantiPresiden di Jalan Teuku Umar, Sungai Kunjang, Samarinda, Kalimantan Timur, jadi buah bibir warganet.

Aksi tiga wakil rakyat itu terekam dalam video yang kini viral di media sosial. Insiden itu terjadi pada Sabtu (15/9/2018).

Dalam video tersebut, tiga anggota DPRD Samarinda dari Fraksi PDI Perjuangan memaki dua pengendara motor Yamaha Jupiter MX KT 6369 LT yang berboncengan. Ketiga anggota DPRD itu yakni Ahmad Vanandza, Suriani, dan Hairul Usman.

Ketiganya terekam dalam satu frame di video yang terjadi di tepi jalan. Sementara dua pemuda yang menggunakan baju bertuliskan #2019GantiPresiden tak berdaya.

Korban dikerumuni bak maling yang tertangkap basah. Baju bagian belakang korban ditarik paksa hingga sobek dan terlepas. Tubuhnya nyaris terpental.

Beruntung, Kapolsek Samarinda Ulu, Kompol Raden Sigit Satrio Hutomo, bisa meredam aksi persekusi tersebut.

Dalam video itu, Ahmad Vanandza, Suriani, dan Hairul Usman saling bersahutan melakukan serangan verbal kepada pengendara itu karena menggunakan baju bertuliskan #2019GantiPresiden.

Bahkan Ahmad Vanandza yang merupakan anggota Komisi I DPRD Samarinda diduga melontarkan kata-kata tak senonoh kepada korban.

Korban tak kuasa menolak perintah ketiga wakil rakyat tersebut. Korban terpaksa melepas baju #2019GantiPresiden, kemudian memasang jaket. Selanjutnya pemuda itu pergi meninggalkan lokasi.

Menanggapi aksi yang terjadi Sabtu siang, Kapolresta Samarinda Kombes Vendra Riviyanto menjelaskan, hal tersebut tentu tak dibenarkan. “Namanya persekusi, tidak pantas,” sebutnya.

Sejauh ini, polisi masih melakukan pengembangan terhadap pengguna baju #2019GantiPresiden. Perwira menengah Polri berpangkat melati tiga di pundak itu menegaskan, pihaknya tentu melihat kejadian tersebut dari berbagai sudut pandang.

Namun dari pantauan di ruang sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT) Polresta Samarinda dan jajaran polsek, dia belum mendengar adanya laporan dari orang-orang yang kabarnya mendapat perlakuan kurang menyenangkan di video tersebut.

“Belum ada laporan, dan dilihat dulu bagaimana nantinya,” terangnya.

Jika ada laporan, terang dia, polisi tentunya sudah bersiap. Mulai mempelajari masalahnya, hingga mencari bukti-bukti di lapangan. Terkait pasal yang dilanggar, Vendra belum bisa merincinya. “Tunggu perkembangan,” ucapnya.

Agar kejadian serupa tak terulang, Vendra menegaskan agar individu maupun kelompok tidak main hakim sendiri. “Segera berkoordinasi ke kami (polisi),” sebutnya.(Red.Su/Tim)

Posting Komentar

 
Top