0
POTRETRI007.COM-M.LABUHAN - Kesulitan mendapatkan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk melaut masih menghantui kalangan nelayan di kawasan Medan Labuhan khususnya di Kampung Nelayan Indah.

Sangkin sulitnya, nelayan yang hendak melaut terpaksa memperoleh BBM jenis solar dari sejumlah agen ataupun pasar gelap meski dengan harga mencekik leher atau harga Rp6.500-Rp7000,- padahal perliternya diatas subsidi Rp5.150 perliternya di SPBU.

Sebagaimana diungkapkan Muhammad Rais (51) seorang nelayan pancing cumi melalui media ini yang terekam langsung saat diwawancarai ditemui di dermaga TPI Kelurahan Nelayan Indah Kecamatan Medan Labuhan.Selasa sore (26/03/2019) sekira pukul 16.00 Wib.

Menurut warga Kampung Nelayan ini, sejak dua tahun belakangan ini para nelayan tak lagi mendapatkan pasokan BBM dari SPBN AKR di Nelayan Indah karena bangunannya sudah tidak ada lagi.

Padahal di wilayah sini diperkirakan ada ribuan nelayan yang masih tergantung dengan BBM untuk melaut.

Mereka berharap ada pihak yang memperjuangkan nasib nelayan agar tak.lagi mengalami keaulitan mencari pasokan BBM dengan harga yang murah atau bersubsidi.

"Selama ini kami nelayan disini tak dikasih membeli BBM solar di SPBU apalagi dengan memakai derigen dengan alasan harus ada surat rekomendasi dari Lurah maupun Dinas Perikanan sementara kami nelayan kecil ini mana mungkin bisa mengurus surat yang diminta tersebut,"ungkap Rais  yang diamini para nelayan lainnya.

Untuk itu kami berharap bantuan dari wadah organisasi HNSI agar dapat kiranya memperjuangkan kepentingan nelayan dalam mudah mendapatkan BBM beraubsidi yakni kalau bisa ada pangkalan BBM Solar khusus bagi nelayan disini,"harap nelayan tersebut.

Sementara itu, dalam menindak lanjuti keluhan masyarakat nelayan tersebut, Ketua HNSI Sumut Zulfahri Siagian, SE mengaku prihatin apa yang dirasakan masyarakat nelayan saat ini dan bertekad akan memperjuangkan aspirasi nelayan agar mendapatkan BBM bersubsidi untuk mencari nafkah di laut.

Ia menjelaskan, bahwa negara melalui BPH Migas telah menugaskan:
1. PT. Pertamina
2. PT. Aneka Kimi a Raya
    (AKR)
3. PT. Surya Parna Niaga
    (SPN)
Utk mensuply BBM Solar ke agen masing-masing utk didistribusikan kepada Nelayan..
Saat ini Suplayer yang ditunjuk oleh BPH Migas tersebut sedang ada masalah.

Dua Suplayer (PT. AKR dan PT. SPN) sdh tidak menyalurkan BBM solar lagi ke agen-agen berupa (SPBN/ Stasiun Pengisian BBM Nelayan) sehingga agen yang menerima BBM solar dari 2 penyuplay tersebut sudah tidak beroperasi lagi.

Khusus di Kota Medan dulunya ada 5 SPBN pasokan solar masing-masing di SPBN Jalan  Hiu (AKR), Yong panah hijau (AKR), Kampung kurnia (AKR), Kel. Nelayan Indah (AKR) dan di Jalan TM. Makam Pahlawan (SPN).

Sedangkan di Deli Serdang ada SPBN AKR di Percutseituan
di Brandan Kab.Langkat ada SPBN (SPN)

di Kabupaten Asahan yakni SPBN di Sei Nangka (AKR)

Karena ke 8 SPBN tersebut sudah tidak beroperasi maka Nelayan Kecil yang seharusnya mendapatkan BBM bersubsidi di daerah masing-masing manjadi kesulitan..
Mereka tidak mendapatkan lagi BBM bersubsidi, jika pun harus melaut maka mencari pasokan BBM solar dari mengepul yang harganya tentu saja lebih tinggi.

DPD HNSI Sumut meminta kepada Badan Pengawasan Hilir (BPH) Migas agar jatah nelayan tersebut dikembalikan.

Hari ini nelayan kami sudah dirugikan, dan jika kedua suplayer tadi gagal melaksanakan tugasnya agar diberikan sanksi.

Pertamina dapat menjadi solusi untuk mensuplay BBM bagi nelayan kecil tersebut.Harap Zulfahri. (Leo/Jak).

Posting Komentar

 
Top