Monday, 4 November 2019

Besok, Nelayan Kecil Demo Besar-besaran "Siap Mati" Tuntut Dihapuskan Pukat Trawl

POTRETRI007.COM - Besok, aksi demo besar-besaran nelayan tradisional menuntut dihapuskannya alat tangkap trawl, kalangan nelayan pada esok Rabu rencananya mulai beraksi di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) (06/11/2019) bahkan tulisan dalam karton bertuliskan bahwa nelayan siap mati demi menuntut dihapuskannya pukat trawl.

Sebagaimana diketahui aksi demo tersebut  guna memprotes keberadaan kapal pukat trawl yang marak beroperasi bahkan justru ironisnya malah dibekingi oknum aparat di laut maupun instansi terkait di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan.

Sesuai surat himbauan yang beredar di kalangan nelayan disebutkan kalau aksi demo kali ini menuju ke kantor Pengawasan Sumber Daya Kelautan Perikanan (PSDKP) dan PPSB serta Kejari Belawan guna memprotes kapal - kapal pukat trawl mencari ikan di perairan Belawan dan Selat Malaka.

Tak hanya bakal diramaikan nelayan dari Medan, melainkan juga nelayan tradisional dari daerah lain juga akan ambil bagian dari aksi protes ini diantaranya nelayan asal Kabupaten Deliserdang, Serdang Bedagei dan Langkat.

Sebagaimana diungkapkan Ketua Forum Nelayan Kecil Bersatu Sumut Rahman Gafiqi kepada wartawan
Bahwa aktivitas kapal-kapal pukat trawl tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan ribuan nelayan kecil yang bermukim di sekitar perairan Belawan.

Penghasilan nelayan tradisional sangat minim karena pukat trawl berskala besar tersebut menangkap  semua jenis ikan berskala kecil dan besar.

"Jangankan ikan kecil dan ikan besar, plankton saja terangkut dalam pukat trawl tersebut," ujar Rahman.
Aktivis dari komunitas nelayan ini menambahkan, keberadaan pukat trawl selain menyengsarakan nelayan tradisional juga akan merusak habitat, biota dan eksosistem laut.
Selain itu, tambah Rahman, selain pukat trawl, ada juga pukat bukemi dan pukat teri yang ikut berperan dalam menyengsarakan ribuan nelayan tradisional yang bermukim di perairan Belawan, Deliserdang, Serdang bedagai dan Langkat.
Rahman mensinyalir aktivitas kapal-kapal pukat trawl tersebut sepertinya tidak tersentuh oleh aparat keamanan di laut sehingga pemerintah terkesan tidak berpihak atau melindungi nelayan tradisional.

Ironisnya, kapal-kapal pukat trawl setiap harinya sandar bebas di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan.

Selama ini, dari sejumlah kapal pukat trawl yang ditangkap, aparat keamanan hanya menangkap para anak buah kapal (ABK) dan tekong saja sementara para pemilik atau pengusaha kapal pulat trawl tidak tersentuh oleh aparat keamanan di laut.
Rahman menambahkan, selama ini pihaknya menilai pemerintah dan aparat keamanan dinilai tidak berpihak kepada nelayan tradisional.

Pasalnya, aktivitas pukat trawal di perairan Selat Malaka dan perairan Belawan semakin merajalela hingga menyengsarakan kehidupan nelayan tradisional. Bahkan pukat trawl banyak bersandar di kawasan Gabion Belawan usai mencari ikan.

"Instansi yang berwenang sepertinya "Tidur" tidak berani menindak tegas terhadap pengusaha atau pemilik kapal pukat trawl," tegasnya.(HS/Blw).

No comments:

Post a Comment