0
Potretri007 - LBH KAP-AMPERA (Amanat Penderitaan Rakyat) melaporkan salah seorang warga Monginsidi III Kelurahan Anggrung Kecamatan Medan Polonia berinisial T ke Kapolrestabes Medan.

 Dalam laporannya dijelaskan Bahwa T menguasai tanah milik Ahli Waris Almarhum Syahman Saragih berdasarkan Surat Perjanjian dan Penyerahan Hak tertanggal 8 April 1972 atas Nama G M.

Sesuai dengan data yang ada pada surat perjanjian dan penyerahan hak atas nama G.M diduga penuh Rekayasa dan Tidak benar kuat dugaan surat tersebut palsu atau dipalsukan.

 Karena didalam surat perjanjian tersebut Umur G.M tidak disebutkan, setelah diketahui dari Kartu Keluarga atas nama G.M ternyata G.M kelahiran tahun 1965, jadi tidak mungkin G.M bisa membeli tanah pada tahun 1972 sebab saat itu G.M masih berusia 7 Tahun.

Dan setelah diteliti tanda tangan G.M pada Kartu Keluarga dengan Tanda tangan pada surat perjanjian dan penyerahan hak sangat jauh berbeda.

Disamping itu sesuai surat perjanjian penyerahan hak tertulis tanah yang dibeli G.M berukuran 13 M x 20 M sedangkan ukuran tanah pada surat kuasa dari Maruhum Tampubolon kepada.Muda Simanjuntak tertulis 15 M x 23 M. menurut keterangan

Yang diperoleh langsung dari T saat ditemui di Jl.Monginsidi III No.28 Medan, Dengan gamblang T menerangkan bahwa surat perjanjian dan penyerahan hak atas nama G.M tersebut didapati T dan Keluarganya dari dalam lemari pada tahun 2015.

Dan diakuiya surat tersebut sebagai dasar mereka menguasai tanah bermasalah di Jl.Monginsidi III No.28 Kelurahan Anggrung tersebut, dan surat tersebut menjadi alat bukti mereka berperkara di Pengadilan Negeri Medan pada tahun 2017.

Ketika ditanya pada T sejak kapan beliau menguasai tanah tersebut, T menjelaskan bahwa mereka menempati tanah dan rumah tersebut pada tahun 2001

Sebelumnya T bersama Almarhum R.M suaminya Kost diseputar Jl.Monginsidi Medan .

Pernyataan dan keterangan T kepada Tim LBH KAP-AMPERA Sabtu sore (28/03/2020) disaksikan Kepala Lingkungan Kelurahan Anggrung Kecamatan Medan Polonia dan L.M seta ibunya.

Serta ibunya LM dan W.Sitepu dari Komite Kerja Advokat dan Pengacara Reklasseering Indonesia.

Dan mempersilahkan kepada Tim untuk menemui Lurah Anggrung agar lebih jelas lagi masalah tanah tersebut sudah dimenangkan oleh pihak mereka, dan T juga tahu betul bahwa tetangganya HS berusaha Melaporkan tanda tangan orang tuanya, karena ada pihak oknum Polri yang menyampaikan kepadanya.

Atas permasalahan ini, Tim LBH KAP-AMPERA akan mengusut tuntas permasalahan tanah milik Ahli Waris Almarhum Syahman Saragih yang kini diserobot haknya dan akan melaporkan pihak pihak yang terlibat dan terkait yang dengan sengaja membiarkan adanya perbuatan melanggar hukum atas penggunaan surat yang diduga penuh rekayasa dan isi surat otentik perjanjian penyerahan hak tahun 1972 diduga tidak benar, karena ada fakta hukum yang menyatakan G.M saat membeli tanah tersebut masih berumur 7 Tahun, dan tidak mungkin umur 7 tahun bisa menanda tangani surat.

Dan kenyataannya tanda tangan G.M selaku Kepala Keluarga pada Kartu Keluarga sangat jauh berbeda dengan tanda tangan G.M pada Surat perjanjian penyerahan hak tahun 1972.

Kami minta para penegak hukum harus benar benar menegakkan hukum yang sebenarnya dan segera menghukum para pelaku pelanggar hukum" tegas H.M.Agussyah dari LBH KAP-AMPERA didampingi R.Sukrisno Alim di kantornya di BHR Taman Setia Budi Indah.(tim).

Post a comment

 
Top