0
POTRETRI007.COM -  Keberadaan Sertipikat HGU No.111 PTPN.2 yang selama ini tidak digunakan oleh PTPN.2 dikarenakan lahan kebun Helvetia dari pasar 4 s/d pasar 11  telah diusahai dan dikuasai oleh para penggarap.

Dari hasil pantauan di lapangan lahan kebun Helvetia telah banyak berdiri bangunan bangunan rumah dan gudang  tanpa IMB dan sebagian Besar lahan tersebut digarap dan diusahai para penggarap dengan menanam Palawija, ubi , jagung dan ada juga ditanami tanaman keras, sesuai pengakuan masyarakat bahwa mereka menggarap lahan tersebut dikarenakan sejak tahun 2004 lahan tersebut diterlantarkan walaupun saat itu sebagian lokasi ada ditanami tebu oleh PTPN.2 .

Namun sejak tahun 2013 lahan HGU PTPN.2 tersebut kembali ditelantarkan. Akhrirnya pada tahun 2013 lahan tersebut digarap kembali oleh para penggarap dan telah dibangun rumah permanen.

Dengan adanya surat pemberitahuan Tgl.4 April 2020 dari Kantor Advokat Sastra,SH, MKn & REKAN Selaku bertindak berdasarkan surat kuasa khusus  dari bapak Ir.FAHRIZAL selaku Manager Kebun Helvetia PT.Perkebunan Nusantara II yang diberikan kepada para warga di Pasar 10 Dusun VIII Desa Manunggal Kec.Labuhan Deli Kab.Deli Serdang, yang intinya agar kepada masyarakat mengosongkan/membongkar sendiri bangunan rumahnya secara aukarela berhubung pihak perusahaan PTPN.II akan memanfaatkan kembali lahan kebun Helvetia untuk ditanami Tebu dalam rangka menindaklanjuti program Pemerintah R.I Swasembada Gula Nasional.

Pada point 4 surat kuasa PTPN.II Tersebut dijelaskan bahwa, bagi masyarakat yang mengosongkan/membongkar sendiri bangunan rumahnya secara sukarela pihjan Perusahaan PTPN II akan memberikan uang tali asih. Untuk itu kepada masyarakat yang suka rela mengosongkan/membongkar bangunan rumah yang masuk didalam areal HGU No.111 Milik PTPN II agar melapor ke kantor  Kebun Helvetia untuk diproses administrasi. Surat Pemberitahuan dari kuasa PTPN II tersebut telah meresahkan masyarakat maka pada Jumat (5/3) masyarakat mengatasnamakan Kelompok Tani Manunggal Lestari melakukan unjuk rasa di areal lokasi pasar 10 kebun Helvetia Desa Manunggal, dengan  menggelar poster- poster dari karton UNTUK MENOLAK OKUPASI yang akan dilakukan oleh PTPN II.

Disisi lain Atas lahan di Pasar 10-11 Helvetia Desa Manunggal Kec.Labuhan Deli Kab. Deli Serdang Prov.Sumatera Utara pihak Komwil Sumatera Utara Reclasseering Indonesia pernah membuat Laporan serta Pengaduan akan Penyerobotan Dan Perampasan Hak atas tanah oleh Para Penggarap liar yang membangun rumah tanpa Surat Izin Mendirikan Bangunan (SIMB) dan Alas hak atas tanah yang syah, surat Komwil Sumut Reclasseering Indonesia tertanggal  11 Juni 2013 Nomor:021/RI/KOMWIL-SU/VI/2013 tersebut disampaikan langsung kepada KAPOLRES PELABUHAN BELAWAN. Dan pihak Kapolres Pelabuhan Belawan telah menindaklanjuti laporan dan pengaduan Komwil Sumut Reclasseering Indonesia sesuai surat pemberitahuan perkembangan Hasil Penelitian Pengaduan (SP2HP) Nomor:B/474/VII/2013/Reskrim tanggal 8 Juli 2013. Surat SP2HP ditandatangani Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan ditanda tangani AKP RONNI BONIC,S.H.,S.I.K.

Ketika wartawan mempertanyakan  kepada salah seorang Tim Pengacara dari Komwil Sumatera Utara Reclasseering Indonesia di kantor Jl.Cicas Raya No.117 perumahan BHR Taman Setia Budi Indah, mengatakan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti kembali Laporan dan Pengaduan Klien mereka yang mengaku telah memasang plank dilokasi Pasar 10-11 Helvetia Desa Manunggal Kec.Labuhan Deli atas permasalahan tanah seluas +/- 94 Ha. Mengingat atas  laporan dan pengaduan Komwil Sumatera Utara Reclasseering Indonesia hingga kini masih jalan ditempat, bahkan anehnya Bangunan bangunan liar yang dibangun secara permanen semakin menjamur di areal lokasi. Untuk kami dalam waktu dekat akan menghadap Gubernur Sumatera Utara sesuai dengan instruksi Presiden R.I Agar Permasalahan Tanah Ex HGU PTPN.II Segera dituntaskan mengenai keberadaan adanya HGU PTPN.II No.111 Kebun Helvetia kami minta segera DITINJAU KEMBALI dan harus dibatalkan.

Tegas Wandi Sitepu Kordinator Komite Kerja Advokat dan Pengacara Reklassering Indonesia didampingi H.M.Agussyah SE.SH dan Ir.Suhiluddin Lubis, Ruli Afandi.SH, Zulkifli Malik.

Sementara itu di lokasi Pasar VIII ratusan warga mengaku resah pasca adanya surat pengosongan lahan.

"Kami sudah 20 tahun lebih mendiami lahan kosong ini untuk bercocok tanam, beternak serta tempat tinggal, selama ini kami berusaha mandiri dan belum ada mendapatkan bantuan apapun dari Pemerintah.Kami berharap pada Pak Presiden Jokowi tolonglah Pak nasib kami ini janganlah rumah tempat tinggal dan lahan kami digusur sebab kami juga rakyat Indonesia butuh penghidupan yang layak, Ungkap Saruhum Sinaga selaku tokoh masyarakat di lokasi tersebut yang pada intinya menolak pengusuran pihak PTPN 2.(Krs/Lbd).

Posting Komentar

 
Top