0


Medan Potretri007
- Gabungan Serikat Buruh Indonesia ( GSBI ) dan Himpunan Mahasiswa Islam Cab.Medan Kamis (15/10)  melakukan Aksi Damai " Tolak dan Batalkan Undang Undang Cipta Kerja Omnibus Law " di Depan Gedung Kantor Gubernur Sumatera Utara.

Pasukan Khusus Garuda Indonesia Raya (Passus Ginra) yang memantau jalannya aksi di Kantor Gubernur Sumatera Utara  melihat suasana aman dan kondusip tidak ada terjadi kerusuhan dan gejolak massa, yang ada hanya Massa GSBI melakukan orasi di atas Mobil Komando menyampaikan aspirasinya Menolak dan Batalkan Undang Undang Cipta Kerja Omnibus Law yang telah disyahkan DPR RI tgl.5 Oktober 2020.

Penolakan keras Undang Undang Cipta Kerja Omnibus Law tersebut dikarenakan untuk Klaster Ketenagakerjaan, yaitu "Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja" Berdampak pada kerugian jangka panjang terhadap penghidupan dan masa depan Klas Buruh.

Pasal - pasal yang merugikan Hak Klas Buruh itu, diantaranya : Upah ditetapkan berdasarkan satuan waktu dan satuan hasil, artinya pekerjaan yang tersedia umumnya diwaktu mendatang yaitu Buruh berstatus Harian Lepas dan Buruh Borongan saja.

Dampak yang sangat menakutkan adalah bila upah ditetapkan berdasarkan satuan waktu (Jam) berarti Upah Minimum (UMP/UMK) dihilangkan dan buruh yang ada saat ini akan bekerja hanya beberapa jam saja ( bisa hanya 3 atau 4 jam sehari) selebihnya dipersilahkan tenaga tenaga pemuda maupun perempuan yang nganggur untuk masuk bekerja.

Selanjutnya , sistim kerja (Buruh) Out Scurching diperbolehkan bekerja dibagian inti (proses produksi), artinya ; Buruh Out Scurching yang ada saat ini Tidak Bisa Menuntut perubahan Status Kerja menjadi Buruh Tetap karena ditempatkan dibagian inti (proses produksi).

Kemudian sistim kerja (buruh) kontrak akan dikontrak selamanya dan Tidak bisa menuntut berubah status menjadi Buruh Tetap.

Sebab Omnibus Law tidak membatasi masa lamanya bekerja buruh kontrak tersebut. Selanjutnya, perusahaan yang merjer (bergabung) atau pindah tempat serta perusahaan yang merugi selama 2 tahun berturut-turut tanpa bukti yang kuat, bisa mem-PHK buruh.

Kemudian, upah minimum dihilangkan dan diganti upah padat karya. Artinya upah ditetapkan dipabrik dibawah Upah Minimum yang ditetapkan Pemerintah.Selanjutnya, Sangsi Pidana Ketenagakerjaan bagi perusahaan yang melanggar aturan, Dihilangkan. Serta masih  banyak pasal lainnya yang merugikan buruh.

Selanjutnya Elemen Mahasiswa HMI Cabang Medan Menyatakan sikap dengan tegas MENOLAK RUU CIPTA KERJA antara lain : 1. Mendesak DPR RI agar Membatalkan RUU Cipta Kerja karena Tidak Sesuai dengan Prinsip Keadilan yang berdasarkan Pancasila.

Menuntut Pemerintah Jokowi-Ma'ruf Amin agar berpihak pada kepentingan masyarakat bukan Korporat, Keluarkan PerPu untuk Menjegal RUU Cipta Kerja.

 3.Meminta kepada Mahkamah Konstitusi agar membuka pintu seluas luasnya untuk Judicial Review.

4. Tolak Refresifitas Kepolisian.

Aksi GSBI diwarnai dengan Gelar Spanduk dan Foster serta Orasi Dengan Keras diatas Mobil Komando, Sementara HMI menggelar Aksi dengan Orasi sambil membacakan puisi diiringi lagu sambil hening cipta dan juga menyanyikan beberapa lagu Iwan Fals sambil Membakar Ban hingga Membara dan asap hitam membumbung tinggi.

Aksi kedua Elemen masyarakat Buruh, Tani, Rakyat Miskin Kota dan Mahasiswa tersebut berjalan damai, Tim Pasukan Khusus Garuda Indonesia Raya yang memantau jalannya aksi langsung dipimpin Danjen Passus Ginra Raden Sukrisno A.S didampingi Tengku Chaidir, Nahrowi, H.M.Agussyah, Abdul Rahman, Sugianto, Abdullah, M.Rusdi, T.Yana, Marliah dan Isnadi.(red/kris).

Posting Komentar

 
Top