0
Pemanfaatan sumber daya perairan atau perikanan secara optimal akan memberikan beberapa keuntungan, yaitu dapat meningkatkan pendapatan petani ikan dan nelayan, membuka lapangan kerja baru, meningkatkan konsumsi bahan makanan sumber protein hewani, serta dapat menambah devisa negara.

Berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya perikanan, salah satu jenis ikan yang memiliki prospek cerah untuk dibudidayakan adalah ikan kerapu. Ikan kerapu merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta memiliki peluang pasar dalam dan luar negeri yang sangat baik. Ikan kerapu ini sudah menjadi menu istimewa di hotel dan restoran terkemuka, baik di Indonesia, Hongkong, Taiwan, Jepang, maupun Singapura. Permintaan pasar internasional terhdap ikan kerapu yang cenderung terus meningkat, memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi ikan kerapu melalui produksi budidaya. 

Usaha budidaya ikan kerapu mulai ditempuh oleh pembudidaya ikan dan nelayan di Kepulauan Riau pada tahun 1978, dengan sasaran pasar Singapura. Usaha pembudidayaan ini akhirnya banyak dilakukan oleh pembudidaya dan nelayan di Kepulauan Seribu, Kepulauan Karimunjawa, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara, Ambon, dan Aceh.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Penanggulangan hama dan penyakit merupakan salah satu faktor terpenting yang erat kaitannya dengan keberhasilan usaha budidaya. Hama adalah hewan (yang bukan dipelihara), yang dapat menimbulkan gangguan pd ikan budidaya. Hama dalam budidaya ikan kerapu di tambak, dibagi menjadi 3 kelompok sebagai berikut.

1. Predator

Predator adalah hewan pemangsa yang dapat memangsa ikan di tambak. Ikan kerapu di tambak dapat dimangsa oleh burung pemakan ikan. Hal ini dapat dicegah dengan selalu mengontrol tambak serta membuat perangkap untuk menangkap burung tersebut. Selain dimakan oleh burung, ikan kerapu juga saling memangsa (kanibal). Sifat kanibal ikan ini dapat dicegah dengan pemberian pakan yang cukup serta pemeliharaan ikan dalam ukuran yang seragam.

2. Kompetitor

Competitor adalah hewan yang menjadi pesaing ikan budidaya dalam mendapatkan pakan, ruang, maupun oksigen. Hewan competitor ditambak dapat berupa siput, kepiting, dan berbagai kerang penempel.Keberadaan hewan-hewan harus dicegah dengan memungut dan membuangnya.

3. Perusak Sarana

Perusak sarana adalah hewan yang dapat menyebabkan kerusakan tambak, misalnya kepiting yang menggali Pematang, siput dan kerang yang dapat menyebabkan kerusakan pintu, dan sebagainya.

Hewan-hewan ini dapat diatasi dengan memungut atau melepaskannya dari lubang penggalian atau tempat penempelannya. Penyakit, Penyakit didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat atau sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pada dasarnya, penyakit yang terjadi pada ikan tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses hubungan antara tiga faktor yaitu lingkungan (kualitas air), kondisi inang (ikan), dan jasad patogen (penyakit). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa timbulnya serangan penyakit ikan merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara ketiga faktor tersebut.


Apabila kondisi lingkungan baik, demikian pula inangnya, dan jasad patogen yang ada tergolong tidak membahayakan, serta didukung dengan pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, maka serangan penyakit dapat dicegah dan dihindari.

Penyakit dapat ditimbulkan oleh satu berbagai macam sumber penyakit, sebagai contoh, penyakit disebabkan oleh satu faktor, yang kemudian dibarengi oleh faktor lain. Bila terjadi hal semacam ini, penyakit kedua memanfaatkan kondisi yang disebabkan oleh penyakit pertama.

Misalnya, seekor ikan yang terluka, akan sangat mudah terserang bakteri. Serangan penyakit dapat menyebabkan kekerdilan, periode pemeliharaan lebih lama, tingginya konversi pakan, tingkat pada tebar yang rendah, dan bahkan kematian.

4 Oleh karena itu, perlu dilakukan pencegahan agar ikan tidak terserang penyakit. Pencegahan yang paling utama adalah pemeliharaan keserasian interaksi antara ketiga komponen tersebut di atas, yang kemudian diikuti dengan teknik pencegahan lainnya.

Pencegahan

“Mencegah adalah lebih baik dari pada mengobati”. Mencegah ikan dari serangan penyakit seperti dikemukakan di atas adalah menjaga keserasian antara inang, patogen dan lingkungan.

Tetapi, tidak mungkin kita selamanya mampu menjaga keserasian ini. Sebab sewaktu-waktu bisa terjadi perubahan alam, misalnya panas yang sangat terik atau hujan secara terus-menerus, sehingga mempengaruhi kualitas air. Dengan demikian, bisa saja ikan terserang penyakit secara mendadak dan sangat sulit diantisipasi. Oleh karena itu, teknik pencegahan mulai banyak dikembangkan.

Pencegahan penyakit infeksi (parasite) dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu menghindari sentuhan anta ikan dengan patogen; menurunkan tingkat infeksi dengan memperkecil jumlah patogen di dalam lingkungan; mempertinggi daya tahan ikan dengan pemberian makanan optimal (secara kuantitatif dan kualitatif) dan imunisasi (Zonneveld dkk., 1991).

Cara pertama, sangat sulit dilakukan karena tidak ada pengaruh terhadap kualitas air yang digunakan atau dikarenakan pengetahuan mengenai infeksi dan tingkatannya masih sangat kurang. Ini mungkin disebabkan penggunaan teknik-teknik yang tidak memadai untuk mengidentifikasi ikan pembawa patogen dan kurangnya kerja sama antara pedagang ikan (produsen benih) dengan petani ikan dan petambak dalam membatasi penyebaran penyakit.

Cara kedua, dilakukan dengan tindakan-tindakan higiene secara rutin misalnya disinfeksi bahan, memakai pakaian bersih, mencuci tangan, meminimalkan jumlah tamu ke tambak, dan hanya membeli benih ikan pada produsen yang dapat dipercaya.

5 -Cara ketiga, dilakukan untuk membuat kebal ikan, tetapi hasilnya tidaklah seefektif pd hewan mamalia. Imunisasi ikan yang diterapkan selama ini adalah berupa imunisasi aktif, yang dilakukan terhadap benih ikan berumur 2 minggu atau benih ikan yang akan ditebar. Teknik ini mempunyai kelemahan, yaitu kekebalan ikan terhadap serangan penyakit baru akan terbentuk setelah benih berumur 2 minggu. Ini berarti, benih ikan yang berumur kurang dari 2 minggu, memiliki risiko terserang penyakit lebih besar.

Ikan yang telah diimunisasi secara aktif juga masih mempunyai risiko terserang penyakit, karena ketahanan tubuh ikan (dari hasil imunisasi) baru akan terbentuk 10 hari setelah diimunisasi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, kini dikembangkanlah imunisasi pasif. Dalam penerapan teknik imunisasi pasif, kekebalan rangsangan tidak lagi diberikan kepada benih ikan, namun diberikan kepada induk yang sedang bunting. Dan selanjutnya, dengan sendirinya antibody yang terdapat pada induk diturunkan kepada anaknya.

2. Penyakit Non-Infektif

Penyakit non-infektif atau penyakit non-parasiter merupakan penyakit yang disebabkan bukan oleh parasit, namun karena adanya faktor lain, misalnya gangguan lingkungan, nutrisi, genetik, dan sebagai.

a. Kualitas air

Penyakit air merupakan penyakit yang disebabkan oleh salah satu atau beberapa parameter kualitas air, misalnya suhu, salinitas, pH, dan sebagainya yang mengalami perubahan atau kualitasnya menurun. Keadaan ini cukup membahayakan ikan, karena membuka peluang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya penyakit, serta dimungkinkan ikan akan menjadi stres.

6 -Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan melakukan penggantian air dan selalu menjaga agar kualitas air tetap optimal.

b. Pakan

Timbulnya malnutrisi dapat disebabkan oleh terjadinya kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara yang diperlukan serta ketidak seimbangan komposisi pakan yang diberikan. Pakan yang kurang berkualitas, misalnya, kurang vitamin, akan menurunkan kekebalan ikan terhadap penyakit. Kekurangan salah satu unsur nutrient yang diperlukan dapat berakibat negatif, menghambat pertumbuhan, dan menurunkan kekebalan atau daya tahan ikan terhadap penyakit.Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan memberikan pakan yang mengandung nutrisi lengkap, yang diberikan dalam jumlah yang cukup.

c. Keracunan

Keracunan dapat disebabkan oleh adanya racun di dalam pakan atau tercemarnya air yang digunakan untuk mengisi tambak. Ikan yang mengalami shock akibat keracunan dapat diatasi dengan memisahkan ikan tersebut ke dalam bak yang diisi air segar dan kemudian membersihkan tambak yang tercemar tersebut. Tambak dikeringkan beberapa saat dan kemudian diisi lagi dengan air yang baru, yang tidak tercemar. Ikan-ikan yang telah pulih dapat dikembalikan ke dalam tambak.

Pencegahan dilakukan dengan memberikan pakan yang berkualitas dan terkontrol kesehatannya (tidak mengandung racun), serta menggunakan air dari perairan yang terbebas dari pencemaran.

3. Penyakit Infektif 
Penyakit infektif atau penyakit parasite disebabkan oleh parasit, misalnya protozoa, jamur, trematoda, dan bakteri. Penyakit infektif yang menginfeksi ikan kerapu antara lain adalah sebagai berikut.

a. Cryptocaryoniasis

Penyakit Cryptocaryoniasis disebabkan oleh protozoa Cryptocaryonsp. Penyakit ini sangat membahayakan ikan kerapu karena dapat menimbulkan penyakit bintik putih (white spot) pada insang dan kulit. Apabila jumlah bintik putih pada insang sangat padat, maka ikan akan mengalami kesulitan dalam bernafas.


Ikan yang terserang penyakit ini akan menunjukkan gejala-gejala hilangnya selera makan, ikan menjadi lesu, sisik terkelupas, mata kadang menjadi buta, mengalami pendarahan pada organ dalam, kerusakan sirip dan insang, serta banyak mengeluarkan lendir. Ikan yang terserang dapat diobati dengan merendam ikan dalam larutan formalin 200 ppm selama 30-60 menit; larutan acriflavin 10 ppm selama 1 jam; formalin 100 ppm + acriflavin 10 ppm selama 1 jam; formalin 25 ppm + malachite green 0,15 ppm selama 12 jam;methylene blue 0,1 ppm selama 30 menit; atau 100% air tawar selama 1 jam. Perendaman ini dilakukan sebanyak 2-3 kali. Bila pengobatan dilakukan melalui pakan, dapat dilakukan dengan menambahkan metronidazole 5g/kg pakan selama 10 hari.

8-b. Nerocilasiosis

Penyakit Nerocilasiosis disebabkan oleh Nerocila sp. Nerocila sp termasuk golongan crustacea yang bersifat vivipar, yaitu telur diinkubasi di baian sisi bawah perut, dan setelah menetes baru dilepaskan agar berenang bebas dan menyerang ikan lain. Nerocila

dewasa bisa mencapai ukuran 2 cm – 3 cm sehingga mudah dilihat dengan mata telanjang, Nerocila sp. Ini merupakan parasit yang menyerang ikan dengan berat tubuh lebih dari 50 g. bagian tubuh ikan yang diserang adalah insang, sehingga menyulitkan ikan dalam bernafas. Namun kadang-kadang ditemukan juga di rongga hidung ikan yang berukuran besar.

Penanggulangan dilakukan dengan merendam ikan dalam larutan formalin 200 ppm selama beberapa menit sampai crustacea melepaskan diri. Jika crustacea yang menyerang sangat banyak, ikan di evakuasi dan tambak dijemur terlebih dahulu untuk mematikan crustacea.

c. Diplectanumiosis

Penyakit disebabkan oleh Diplectanum sp. Cacing diplectanum ini berukuran 0,5 mm – 1,9 mm dan memiliki ciri khusus, yaitu pd ujung depan terdapat 2 pasang mata. Cacing menyerang insang ikan sehingga warna insang menjadi pucat dan berlendir. diobati dengan cara di rendam dalam larutan formalin 200 ppm selama 30-60 menit dan di ulang setelah 3 hari; dalam air tawar selama 1 jam; atau dalam air yang mengandung acriflavin 100 ppm selama 1 menit atau 10 ppm selama 1 jam. Bisa juga digunakan formalin 25 ppm dan Gambar 3. Diplectanum sp.

9-malachite green 0,15 ppm selama 1 jam; atau dicelupkan selama 1 menit dalam dipterex 20 ppm.

d. Streptococcusiosis, Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Streptococcus sp., yaitu jenis bakteri gram positif. ikan yang terserang bakteri ini akan menunjukkan gejala-gejala menjadi lemah, berenang secara tidak teratur, malas makan, dan kadang-kadang terjadi pendarahan pada mata. Dari beberapa hasil percobaan, disimpulkan bahwa, bakteri ini tahan terhadap sejumlah antibiotik. Oleh karena itu, disarankan untuk menggunakan antibiotik berikut dalam penanggulangannya, yaitu ampixillin 0,5 g/kg pakan selama 5 hari berturut-turut; erythromycin estolat 1 g/kg pakan selama 5 hari berturut-turut; atau penicillin 3.000 unit/kg ikan, secara suntikan ke tubuh ikan.(red/Blw).

Posting Komentar

 
Top