0

A. Menyiapkan ikan rucah.
Secara tradisional, pembesaran ikan kerapu menggunakan ikan rucah sebagai satu-satunya sumber pakan.. Mutu Ikan rucah dapat dibagi menjadi tiga kategori: baik, sedang dan buruk menurut kriteria sebagai berikut:
• Baik: Segar dan nampak bercahaya
• Sedang: Warnanya kusam tetapi masih dalam bentuk utuh
• Buruk: Rusak, berbau busuk
Hanya ikan rucah yang berkualitas baik yang seharusnya
diberikan pada ikan kerapu.
Penggunaan ikan rucah seharusnya dikurangi, jika pakan  buatan tersedia. Pemberian ikan rucah untuk ikan kerapu memerlukan penanganan, seperti mengeluarkan isi perut dan kepala ikan, dan membersihkan semua kotoran. Jika ikan kerapu berukuran kecil, maka ikan rucah harus dipotong-potong sesuai bukaan mulut ikan kerapu.

   A. Ikan rucah  bermutu baik   
B. Ikan rucah kualitas sedang
C.Ikan rucah kualitas buruk.
 B. Menyiapkan Pakan Buatan
Pakan buatan terdiri dari dua jenis :
1. Pakan basah, yang dapat diproduksi sendiri oleh pembudidaya.
2. Pellet yang diproduksi secara komersial,  oleh pabrik pakan.
1. Keuntungan penggunaan pakan buatan
a. Keuntungan secara ekonomi
Umunya pakan buatan lebih mahal dibandingkan  ikan rucah, dan banyak pembudidaya ikan terkecoh dengan membandingkan secara langsung harga per kilogram pakan. Padahal tidak  demikian, sebab ikan rucah segar mengandung uap air sampai sekitar 75%, sedangkan pellet hanya kurang dari 10%. Bahan kering pellet empat kali lebih banyak dari ikan rucah. Cara yang tepat untuk membandingkan dua jenis pakan tersebut adalah dengan menghitung jumlah dan biaya yang dibutuhkan untuk menghasil-kan pertambahan berat yang sama pada ikan yang dibudidaya, yaitu dikenal dengan istilah rasio konversi pakan atau food conversion ratio (FCR).
FCR untuk ikan kerapu yang mengkonsumsi pellet kering biasanya lebih kecil dari 2:1. Artinya, ikan membutuhkan pakan pellet 1,5-2 kg untuk setiap pertambahan berat badan 1 kg. 
Hal ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan mengkonsumsi ikan rucah, yang FCR-nya bisa mencapai 6:1 bahkan lebih. 
Keuntungan lainnya akibat menggunakan pakan pelet adalah ikan kerapu tumbuh lebih cepat dan lebih sehat dibandingkan dengan ikan yang diberi pakan ikan rucah, karena mengandung nutrisi yang lengkap. Sebagai contoh, hasil penelitian yang dilakukan di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, menunjukkan ikan kerapu yang diberi pakan buatan tumbuh 75% lebih cepat  dibandingkan dengan yang diberi pakan ikan rucah.
b.Keuntungan terhadap lingkungan
Pakan buatan relatif kurang mencemari lingkungan, karena stabilitas air lebih baik dan kurangnya pakan yang terbuang.
2. Menyiapkan pakan basah
 Bahan baku pakan harus dihaluskan dengan menggunakan peralatan penghalus apa saja, seperti lesung dan penumbuk atau penggiling atau penumbuk listrik jika julah bannya banyak.
Pencampuran – jika jumlah bahannya sedikit dapat dicampur secara manual dengan tangan atau dengan sendok khusus. Jika Jumlah bahannya banyak sebaiknya menggunakan pencampur adonan besar yang biasanya digunakan di industri pembuatan roti yang komersil. 

Pembentukan adonan –  tergantung pada volume dan kebutuhan, adonan dapat dibentuk menjadi ukuran dan bentuk yang tepat secara manual atau dengan mesin penggiling daging untuk menghasilkan adonan yang panjang-panjang seperti mie dengan diameter yang diinginkan. Bentuk mie ini kemudian dapat dipotong-potong menjadi potongan-potongan yang berukuran tertentu menurut ukuran ikan yang akan diberi pakan.
  Jika ikan rucah yang akan digunakan untuk membuat pakan basah, pastikan bahwa ikan rucah tersebut harus sesegar mungkin dan bermutu baik, dan harus dibersihkan dan isi perutnya dikeluarkan.
3. Menyiapkan pelet kering
Pelet kering telah diproduksi secara komersil oleh pabrik pakan. Pellet kering selain memberikan keuntungan seperti halnya pellet basah, tetapi ada  keuntungan lain  yaitu:
Suplai yang terjamin
Daya simpan yang lebih lama: 
Lebih ramah lingkungan:
Kunci utama dalam memilih pakan pellet kering yang baik:
Belilah dari produsen pakan yang dipercaya
Kualitas pakan – kandungan nutrien, komposisi dan kesegarannya jauh lebih penting daripada membeli  karena melihat harganya.
Jika pakan yang menunjukkan tanda-tanda basah oleh air/hujan (kemasannya kusam, pellet menggumpal, berbau tengik, dan lain-lainlain) seharusnya jangan dibeli dan jangan diberikan pada ikan.

C. Penyimpanan dan Pengawasan Mutu Pakan
Karakteristik dari fasilitas penyim-panan pakan yang baik :
Terlindungi dari sinar matahari langsung dan hujan
Berventilasi baik dan sejuk
Kering dan kelembaban rendah
Aman dari tikus dan serangga
Tempat penyimpanan tidak secara langsung berhubungan dengan tanah untuk mencegah terjadinya penguapan tanah dan kerusakan oleh jamur
Penyimpanan pakan seharusnya jauh dari bahan-bahan kimia dan obat-obatan.
Penyimpanan yang tidak memadai akan mengurangi daya simpan pakan dan dapat mengurangi kadar nutrient yang penting seperti vitamin, asam lemak esensial dan anti-oksidan.
D. Memberi Pakan
1. Dosis
Untuk mendapatkan keuntungan maksimum, hal yang terbaik adalah  pemberian pakan yang memaksimalkan pengambilan pakan oleh ikan budidaya, sehingga tercapai laju pertumbuhan yang semaksimal mungkin dan  tidak  memberi pakan secara berlebihan, karena  menyebabkan masalah pencemaran air yang bisa menimbulkan penyakit.
Beberapa perusahaan pakan komersil dan peneliti telah mengembangkan suatu aturan pemberian pakan yang didasarkan pada pengalaman mereka, namun  penggunaan aturan tersebut hanya sebagai acuan saja, karena kondisi lokasi pemeliharaan yang berbeda seperti kualitas air, cuaca, lingkungan dan sistem budidaya mempengaruhi bagaimana aturan yang terbaik pemberian pakan pada ikan. Oleh karena itu suatu aturan yang diterapkan di satu tempat, atau pada satu usaha budidaya, tidak secara langsung dapat diterapkan di tempat yang lain.
Aturan Pemberian Pakan Ikan Rucah Untuk Ikan Kerapu
Ukuran Ikan (g) Ransum Harian (%BT1) Frekuensi Harian
5-10 15-20 3-4
10-50 10-15 2-3
50-150 8-10 1-2
150-300 6-8 1
300-600 4-6 1
Rata-rata berat tubuh (BT)

Aturan Pemberian Pakan Pellet Kering Untuk Ikan Kerapu
Ukuran Ikan (g) Ransum Harian (%BT1) Frekuensi Harian
1-5 4,0-10,0 3-5
5-20 2,0-4,0 2-3
20-100 1,5-2,0 2
100-200 1,2-1,5 1-2
200-300 1,0-1,2 1
> 300 0,8-1,0 1
Rata-rata berat tubuh (BT)
2. Waktu Pemberian Pakan
Benih kerapu dengan berat kurang dari 5-10 gram berat tubuh umumnya perlu diberi pakan lebih dari tiga kali sehari untuk memaksimalkan pengambilan pakan dan mempercepat pertumbuhan ikan. Semakin besar ukuran ikan, semakin kurang frekuensi pemberian pakan, tanpa memberi pengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan. 
Jika ikan diberi makan dua kali setiap harinya, pemberian pakan harus dilakukan pada pagi hari (subuh) dan petang. Untuk ikan yang diberi makan sekali sehari, lebih baik dilakukan pada waktu petang sebelum matahari terbenam. Tidak baik memberi pakan pada siang dan sebelum petang, karena sinar matahari yang terik. Pada waktu tersebut, ikan kerapu cenderung beristirahat di dasar wadah pemeliharaan dan umumnya kurang aktif makan. 
Menghitung Jumlah Pakan Berdasarkan Biomassa?
Gunakan rumus berikut: Jumlah pakan = (jumlah ikan dalam jaring × rata-rata berat tubuh)× % ransum harian. Sebagai contoh, untuk 1.000 ikan dalam keramba dengan rata-rata berat tubuh (BT) 5 g, dengan 4% ransum harian mengacu pada tabel sebelumnya, maka jumlah pakan  yang  diberikan  setiap hari dapat dihitung sebagai:
= (1,000 × 5) × 4%
= 5,000 × 0.04
= 200 g
Jika ikan diberi pakan tiga kali sehari, maka jumlah pakan harian 200 g harus dibagi seimbang untuk setiap pemberian pakan. Jadi kira-kira sejumlah 67 g pakan yang harus diberikan setiap kali, dengan cara menebarnya sedikit demi sedikit sampai ikan kenyang. Metode yang serupa juga diterapkan jika menggunakan ikan rucah.

3. Metode pemberian pakan
Pellet kering komersil biasanya berupa pellet yang lambat tenggelam, sehingga memberikan kesempatan bagi ikan untuk mengambil pakan tersebut. Umumnya pakan ditebarkan merata di permukaan air agar semua ikan beroleh kesempatan mengambil pakan. Namun demikian, ikan kerapu dapat dengan cepat menjadi terbiasa pada waktu pemberian pakan dan sering berkumpul di tempat dimana pakan pertama kali diberikan. Jadi tidak perlu menebarkan pakan ke seluruh bagian keramba. Hanya aturan yang perlu diingat adalah menebarkan pakan sedikit demi sedikit agar menjamin bahwa semua ikan dalam keramba (atau kolam) mendapatkan kesempatan untuk menangkap pakan tersebut.
Jika ikan-ikan berhenti makan dengan aktif sebelum semua pakan habis, maka pemberian pakan harus segera dihentikan, karena berarti ikan telah kenyang. Penambahan pakan hanya akan menjadi limbah dan menyebabkan masalah pada kualitas air.
4. Langkah-langkah yang perlu dipedomani dalam memeberi pakan :
Aturan dasar pertama – beri  pakan sampai kenyang, tetapi jangan berlebihan. Ketika ± 30% ikan berhenti makan, maka segera hentikan pemberian pakan.
Pemberian pakan seharusnya didasarkan pada biomassa ikan dalam keramba atau kolam dan gunakan tabel pemberian makan, tetapi hanya sebagai acuan.
Pakan jangan ditebarkan sembarang hingga menumpuk di dalam keramba atau kolam, tetapi sebaiknya diberikan sedikit demi sedikit dan disebarkan ke tempat dimana ikan berada.
Penggunaan produk obat-obatan seperti antibiotika dalam pakan harus dihindari. Jika memang terpaksa harus digunakan, sebaiknya berdasarkan dosis dan anjuran dari instansi perikanan .
Pakan seharusnya diberikan menurut ukuran ikan, dan ukuran pellet sebaiknya semakin besar dengan semakin bertumbuhnya ikan peliharaan. 

E. Kajian Kelayakan Pakan
Dalam upaya mengkaji kelayakan pakan, penting untuk mengetahui biomassa dan jumlah pakan yang dikonsumsi.
Setiap orang dapat menghitung kelayakan pakan yang digunakan berdasarkan biomassa, jumlah pakan yang dikonsumsi dan biaya pakan.
Penghitungan biomassa ikan kerapu dalam sistem budidaya
Penghitungan produksi didasarkan pada jumlah ikan yang  ditebar , sintasan selama masa pemeliharaan (berdasarkan pada pengamat-an dan penghitungan harian) serta ukuran ikan saat dipanen, sesuai rumus: 
Produksi = (Ni xSRe) xBT
Dimana:
Ni = jumlah awal ikan yang ditebar
SRe = perkiraan sintasan
BT = rata-rata berat tubuh
Sebagai contoh– Penghitungan produksi:
= (1,000 ekor × 70%) × 0.6 kg
= 700 ekor × 0.6 kg
= 420 kg
Rasio konversi pakan
Rasio konversi pakan (Food conversion ratio or FCR) dihitung sebagai : berat pakan yang dikonsumsi dibagi dengan peningkatan berat ikan yang dihasilkan.
FCR = Total pakan yang dikonsumsi
Total pertambahan berat ikan
Contoh Penghitungan FCR untu pakan buatan :
Total pakan  yang diperlukan untuk memproduksi 420 kg ikan kerapu adalah 700 kg, maka FCR:
FCR = 700 kg
420 kg
FCR = 1.67 (pakan buatan)

Contoh Penghitungan FCR untuk Pakan Ikan Rucah :
Total pakan ikan rucah yang diperlukan untuk menghasilkan 420 kg ikan kerapu adalah 2520kg, maka FCR:
FCR = 2,520 kg
 420 kg
FCR = 6.0 (ikan rucah).(Guz/Lbh).

Posting Komentar

 
Top