0
"Rara yang hilang beberapa hari, disekap dan tidak tau keberadaannya akhirnya telah kembali pulang kerumah, respon terhadap media sosial sangat besar"

Medan | Potret RI - Media Sosial memiliki peran yang sangat besar dalam pencegahan dan penanganan khusus pada tindakan kriminalitas dengan kasus Penculikan, dengan adanya pesan berantai yang dibuat memberikan informasi langsung kepada Pihak Kepolisian Sektor Helvetia.

Pasca Penculikan remaja putri diwilayah Hukum Polsek Helvetia, dengan korban penculikan Rara Syafitri, warga Jalan Kemuning 12 No. 232 Perumnas Helvetia Medan ini, yang sebelumnya dikabarkan menghilang sejak Minggu (1/7/2018), mendapatkan respon langsung dari Polsek Helvetia untuk bergerak mencari korban penculikan.

Menanggapi kasus ini, Kapolsek Medan Helvetia Kompol Trila Murni mengatakan awal mengetahui kejadian itu berawal dari berita berantai yang menyebar secara cepat di sosial media.

"Tadi malam kita sudah cek kerumah korban, tapi ternyata rumahnya tutup. Terus memang si anak belum pulang hingga saat itu," kata Trila

Terkait apakah sudah melapor secara resmi atau belum ke Polsek Medan Helvetia, Trila menyebut mungkin laporan yang masuk dari keluarga korban belum resmi.

"Walaupun laporannya sudah masuk atau tidak, tapi kita akan mencari tahu siapa kawan terakhir yang dijumpainya," ucap Trila.

"Aku jujur prihatin juga melihat kejadian ini, karena korbannya masih anak-anak. Makanya ini mau aku cek apakah dia punya HP, jadi bisa di lacak dimana keberadaannya saat kejadian itu itu," sambungnya.

Lebih lanjut, terkait apakah kasus ini berbentuk modus penculikan. Trila belum berani menyimpulkan lebih jauh kebenaran hal tersebut.

"Saya nggak berani menyimpulkan, karena saksi-saksi masih kita telusuri, nanti kita imbau. Pokoknya aku bakal datang kerumahnya untuk minta keterangan lebih lanjut untuk mencari tahu agar anak itu bisa ditemukan," ujarnya.

"Kita kalau perlu akan bentuk Tim untuk mencari tahu dimana keberadaan anak itu, agar ditemukan. Karena kasian lihat neneknya sudah tua," tandas Trila.

"Minimal orangtua maupun keluarga lebih aktif menjaga anak-anaknya. Mungkin bisa cek ke rumah temannya, tetangga dan orang terdekat yang sering bermain bersama anak," kata Trila, Rabu (11/7/2018).

"Namanya anak ya tetap anak, karena ia bukan orang lain. Saya waktu mendengar kabar Rara hilang itu, langsung teringat anak saya. Apalagi yang hilang ini anak perempuan," sambungnya.

Trila meminta agar para orangtua lebih awas untuk memperhatikan gerak buah hatinya. Terlebih suasana lingkungan dan jangan saling tidak peduli. Minimal harus saling mengenal dan berhubungan baik dengan tetangga di lingkungan.

"Karena saudara yang terdekat itu adalah tetangga. Jangan sampai kita tidak punya informasi. Apalagi saya sebagai Kapolsek wanita melihat kejadian yang menimpa Rara. Terlebih orangtuanya tidak disini, dia ikut nenek dan orang tuanya di Pekanbaru. Apalagi notabennya jarang pulang, tentu tak bisa meninjau langsung pertumbuhan sang anak," ungkapnya.

"Karena sering kejadian kita saat merazia warnet, masih banyak anak-anak yang bermain hingga malam hari. Kalau anak tidak pulang sampai malam, dicarilah suruh pulang jangan dibiarkan begitu saja, sayangilah keluarga jangan sampai setelah tidak ada baru menyesal," pungkas Trila.

Sebelumnya, Rara Syafitri perempuan berusia 12 tahun warga Jalan Kemuning 12 No. 232 Perumnas Helvetia Medan ini, sebelumnya dikabarkan menghilang sejak Minggu (1/7/2018) sore sekitar pukul 18.30 WIB, kini akhirnya telah kembali kerumah. Saat dihubungi via telepon seluler, nenek korban Herlina Rangkuti (51) dari nada bicaranya terlihat begitu semangat saat mengangkat telepon.

"Rara sudah pulang pada Kamis (5/7/2018). Dia pulang sendiri, tapi tidak tahu kami dia pulang sama siapa, tiba-tiba balik kerumah," kata Lina, Rabu (11/7/2018).

"Waktu kejadian Rara bilang mulutnya disekap pakai sapu tangan, sehingga dia pingsan dan tak sadarkan diri," sambungnya.

Lina menjelaskan bahwa menurut Rara pelakunya laki-laki menaiki mobil seperti dugaan awal berwarna putih. Dengan perawakan kepala botak, memakai rantai besar dan kalau berbicara selalu dengan intonasi suara yang cepat.

"Rara bilang selama disekap cuma dikasih makan sehari sekali. Tapi dia nggak tahu di daerah mana disekap," ujarnya.

Lebih lanjut, Trila menjelaskan bahwa kita harus menjaga anak-anak kita, karena itu adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dengan sepenuh hati. Mau anak siapapun pasti harus kita lakukan yang terbaik untuk menjaganya. Seperti kalau anak-anak hingga malam belum pulang, seharusnya keluarga awas dan mencari dimana keberadaannya. Bukan hanya berdiam diri dan menunggu si anak pulang.(Red.Su/Tim)







Posting Komentar

 
Top