0

"Sosialisasi perlintasan kawasan area Militer Kosek Hanudnas III dan sekitar Lanud Soewondo"

Medan | Potret RI - Kemacetan dan kepadatan lalu lintas sering kali terlihat di jalan Adi Sucipto dan sepanjang kawasan militer Kosek Hanudnas III maupun di sekitar Lanud Soewondo Medan.

Hal ini di karenakan banyaknya pertumbuhan  kendaraan yang tak sebanding dengan pertumbuhan jalan hingga setiap jam-jam sibuk kemacetan pasti tak terelakan untuk itu Satuan Polisi Militer Angkatan Udara di Medan Berlakukan sistim stiker untuk mengurai kemacetan.

Dansatpom Lanud Soewondo Mayor POM I gede Eka Santika pada awak media menjelaskan bahwa aturan penggunaan stiker sudah sesuai juknis internal TNI AU yang mulai di sosialisasikan kepada masyarakat melalui surat edaran Danlanud Soewondo dengan nomor SE/02/VI/2018 tanggal 29/6/2018.

" Rekan wartawan pernah nggak masuk ke pangkalan militer selain Soewondo ? hal itu memang di berlakukan pada seluruh pangkalan militer yang ada di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban dan alat bantu pengawasan kata I Gede Eka Santika ketika dikonfirmasi awak media ini via telepon.Kamis (6/9) jam 17:00 WIB.

"Dengan diberlakukannya hal ini sehingga akan mempermudah pemeriksaan kendaraan yang melintas karena telah terdata".

Gede Eka mengungkapkan, pemberlakuan aturan ini mempertimbangkan kondisi Jalan Adi Sucipto yang terpantau setahun ini kemacetan sangat meningkat tajam, terutama pagi hari dan sore hari. Ditambah lagi, banyaknya masyarakat yang mengabaikan rambu batas kecepatan maksimum 40 km per jam , serta ada beberapa oknum yang mengabaikan etika berkendaraan sehingga potensi besar membahayakan pengendara ataupun pengguna jalan lain. 

Dua hal tersebut tentunya mengganggu operasional personel Lanud Soewondo.

"Jalan Adisucipto ini sejatinya bukan jalan umum, namun merupakan jalan ksatrian Lanud Soewondo yang sangat berdekatan dengan Ring I Lanud Soewondo, Mungkin karena banyak masyarakat yang belum tahu jika kawasan ini merupakan pangkalan militer, sehingga kita perlu sosialisasikan untuk menghindari kesalahpahaman. Pernah kejadian, Anggota Lanud ditabrak pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan ataupun banyaknya kejadian kecelakaan lalu lintas lain ," ujarnya.

Saat ini pihaknya sedang mensosialisasikan aturan ini hingga dua  sampai tiga  minggu kedepan. Untuk rute wajib stiker, mulai dari bundaran eks Bandara Polonia sampai ke perempatan Avros.

"Sebenarnya sekarang ini masa sosialisasi, hanya karena kegiatan padat, sosialisasi jadi belum maksimal," katanya.

Untuk mendapatkan stiker ini, masyarakat harus mengambil dari Kantor Sat Pom Lanud Soewondo, sembari membawa salinan Kartu Tanda Penduduk, Surat Izin Mengemudi, dan Surat Tanda Nomor Kendaraan.

"Stiker ini tidak sembarangan diberikan. Hanya kepada warga sipil yang bertempat tinggal di daerah sekitar Lanud Soewondo, atau yang karena keperluannya sehingga benar-benar harus rutin melintasi jalan ini," ujar I Gede Eka.

I Gede Eka menambahkan, stiker terbagi atas dua jenis, yakni warna biru dan merah. Warna biru untuk masyarakat yang melintas karena kepentingan, dan warna merah untuk masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar kawasan Lanud Soewondo seperti perumahan yang sudah ditentukan di surat edaran 

Masa berlaku stiker pada dasarnya 1 tahun, namun skalian sosialisasi sticker 2018 berlaku sampai Desember 2018, setelah itu akan ditentukan kemudian oleh Danlanud. Semoga Masyarakat mengerti dan memahami demi ketertiban dan keamanan di wilayah hukum Lanud Soewondo.

Sementara itu tanggapan dari masyarakat atas sosialisasi yang akan dilakukan pihak Lanud Soewondo ada plus minusnya, dilihat dari segi kondisi wilayah Lanud sudah dialih fungsikan wilayah menjadi property mewah, diantaranya pada didepan Pangkosek  dan Dibelakang sudah dibangun CBD dengan perizinan yang diberikan pimpinan sebelumnya.

"Memang baik yang dilakukan Dan Lanud Soewondo untuk memberlakukan stiker bila melintas pada areal tersebut, namun bila dilihat dari sisi lainnya, dengan begitu pasti memiliki aturan untuk mendapatkan stiker, yang pastinya mendapatkan stiker itu adalah penghuni CBD dan pemilik property mewah disamping dan depan Pangkosek maupun Lanud Soewondo," ungkap warga yang tidak ingin disebutkan namanya, dan tinggal di karangsari.

"Dan yang paling buruk bisa timbul dari pemberlakuan itu, kami yang tinggal dikarang sari polonia, harus memutar dan belum tentu kami bisa mendapatkan stiker itu, sepertinya kami terisolasi, ini akan timbul kesenjangan dan bila lah benar pemberlakuan itu untuk yang positif  sangat bagus bila hasilnya negatif bagaimana jadinya, kita bukan berburuk sangka namun hal ini bisa aja terjadi dan dugaan areal Polonia bisa jadi ajang mafia Narkoba untuk beraksi, memproduksi maupun untuk memasarkan, dengan diberlakukannya sistem semacam itu mereka sangat terlindungi karena mereka memiliki by passnya dengan menggunakan ijin lintas dengan alasan mereka mempunyai bangunan di sekitar areal yang diberlakukan ijin lintas dengan menggunakan sticker", ungkapnya kembali, saat ditemui tim media di karangsari Polonia. (Red.Su/Tim)


Posting Komentar

 
Top